Authors
-
Yulian Hermanus Wenno
Universitas Pattimura, Ambon
-
Archristhea Amahoru
Universitas Islam Negeri Abdul Muthalib Sangadji, Ambon
Literasi kecerdasan buatan (AI) lazim digambarkan sebagai perluasan literasi digital, tetapi belum jelas seberapa sering hubungan itu benar-benar diuji dan bukan sekadar dinyatakan. Studi pemetaan bibliometrik ini, yang bukan merupakan tinjauan sistematis, memetakan lanskap riset tempat kedua konstruk bertemu dan menemukan titik ketika buktinya menipis. Pencarian dilakukan pada Scopus dan ERIC tanggal 19 Oktober 2026 dengan empat string pelengkap, dibatasi pada artikel berbahasa Inggris terbitan 2015–2026, dan menghasilkan 1.131 catatan serta 943 catatan unik setelah deduplikasi. Setiap catatan diklasifikasikan melalui pencocokan istilah pada judul, abstrak, dan kata kunci, bukan melalui penapisan naskah lengkap, sehingga angka yang dilaporkan bersifat indikatif; catatan yang tertandai melaporkan validitas diskriminan diverifikasi dengan membaca abstraknya. Jaringan ko-okurensi kata kunci dibangun menggunakan VOSviewer. Korpusnya sangat muda: 756 catatan (80,2%) terbit pada 2025 atau 2026, dan catatan yang menyebut kedua konstruk tumbuh dari sembilan pada 2023 menjadi 251 pada 2026. Bukti menyusut tajam di sepanjang korpus. Meskipun 436 catatan (46,2%) menyebut kedua konstruk, hanya 169 (17,9%) memadukannya dengan kosakata instrumen, 34 (3,6%) dengan statistik validasi, dan 27 (2,9%) dengan statistik validasi pada populasi peserta didik. Tiga catatan tertandai melaporkan validitas diskriminan, dan verifikasi abstrak menunjukkan hanya satu yang benar-benar menguji literasi AI terhadap alat ukur literasi digital; studi itu pun memakai peserta vokasional dewasa, bukan peserta didik sekolah. Pengembangan instrumen berjalan aktif dengan 84 studi teridentifikasi, 70 di antaranya sejak 2025. Jarak antara penyebutan bersama dan validasi bersama menunjukkan bahwa bidang ini membangun instrumen lebih cepat daripada mengujinya.